geMasTIK 2008

Juli 30th, 2008 by abdoel14

geMasTIK atau Pagelaran Mahasiswa Nasional bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Tahun 2008, merupakan program Direktorat Penilitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) DIKTI, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas peserta didik sehingga mampu mengambil peran sebagai agen perubahan dalam memajukan TIK dan pemanfaatannya di Indonesia.

Tema

Inovasi TIK untuk meningkatkan daya saing dan martabat bangsa

Slogan

Semangat Berinovasi

Pemilik Event

DIKTI

Penyelenggara

Perguruan Tinggi Penyelenggara Tahun 2008 di Institut Teknologi Telkom (IT TELKOM), Bandung

Latar Belakang

  1. TIK di kalangan mahasiswa sangat pesat perkembangannya.
  2. Belum ada wadah yang cukup kompetitif dan terpadu semacam PIMNAS.
  3. Adanya gap yang cukup lebar mengenai ketersediaan dan kesiapan SDM bangsa Indonesia di bidang SDM TIK.
  4. TIK memiliki potensi sebagai enabler di semua segi kehidupan dan berdampak luas bagi masyarakat.
  5. Sebagai bagian kompetisi berjenjang menuju kompetisi TIK berskala internasional.

Sasaran

  1. Meningkatkan hubungan/interaksi di lingkungan dunia akademisi juga dunia akademisi dengan industri dalam pengembangan TIK.
  2. Mendorong peningkatan kegiatan riset TIK di kalangan mahasiswa perguruan tinggi dan menerapkan TIK di lingkungan masyarakat Indonesia.
  3. Meningkatkan kreativitas dan kepekaan mahasiswa dalam pengembangan TIK.
  4. Penyebarluasan informasi dan penguasaan TIK di lingkungan PT ke segenap kalangan masyarakat Indonesia.
  5. Ikut meningkatkan jumlah HAKI di Indonesia.
  6. Membudayakan iklim kompetitif di lingkungan Perguruan Tinggi.
  7. Mendorong interaksi antara PT dengan memanfaatkan teknologi TIK.
  8. Mengurangi kesenjangan digital di tanah air.

Hasil yang Diharapkan

  1. Karya inovatif ilmiah mahasiswa bidang TIK
  2. Temuan-temuan baru dalam bidang TIK yang diteliti oleh kalangan mahasiswa.
  3. Karya tulis sebagai sumbangan dan masukan baik kepada kalangan kampus sendiri maupun masyarakat umum di luar kampus.
  4. Tersebarkannya informasi dan perkembangan TIK di Indonesia pada khususnya dan di seluruh dunia pada umumnya.
  5. Meningkatnya kesadaran masyarakat Indonesia akan keuntungan penggunaan TIK.
  6. Terbangunnya komunikasi yang baik antar ahli di sub bidang TIK.
  7. Meningkatnya peran serta dunia usaha dan industri serta masyarakat luas dalam peningkatan kualitas dan produktivitas karya-karya ilmiah ekstra kurikuler mahasiswa.

Perlombaan dalam geMasTIK

Category

Cases

A. Smartware Contest Antenna, Remote Controller/Automation, Signal Processing Application
B1. Logic Contest Algorithm Contest
B2. Logic Contest Data Mining
B3. Logic Contest Network Security
C. ICT Business Contest Business Game
D. Application Contest Mobile Application, Management Information System, Geographic Information System, e-Learning, Decision Support Systen, Game Development, Animation, etc
E. ICT Paper Contest Essay Contest

Peta Konsep untuk Mempermudah Konsep Sulit dalam Pembelajaran

Juli 29th, 2008 by abdoel14

Peta konsep merupakan salah satu bagian dari strategi organisasi. Strategi organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru, terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur pengorganisasian baru pada bahan-bahan tersebut. Strategi-strategi organisasi dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide atau istilah-istilah atau membagi ide-ide atau istilah-istilah itu menjadi subset yang lebih kecil. Strategi- strategi ini juga terdiri dari pengidentifikasian ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar.

Salah satu pernyataan dalam teori Ausubel adalah ‘bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui siswa (pengetahuan awal). Jadi supaya belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa (Suryadi  menambahkan di sini –> Ini yang disebut Teknik Konstruktivisme). Ausubel belum menyediakan suatu alat atau cara yang sesuai yang digunakan guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui oleh para siswa (Dahar, 1988: 149). Berkenaan dengan itu Novak dan Gowin (1985) dalam Dahar (1988: 149) mengemukakan bahwa cara untuk mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa, supaya belajar bermakna berlangsung dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep.

a. Pengertian Konsep

Konsep dapat didefenisikan dengan bermacam-macam rumusan. Salah satunya adalah defenisi yang dikemukakan Carrol dalam Kardi (1997: 2) bahwa konsep merupakan suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu kelompok obyek atau kejadian. Abstraksi berarti suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen yang lain.

Tidak ada satu pun definisi yang dapat mengungkapkan arti yang kaya dari konsep atau berbagai macam konsep-konsep yang diperoleh para siswa. Oleh karena itu konsep-konsep itu merupakan penyajian internal dari sekelompok stimulus, konsep-konsep itu tidak dapat diamati, dan harus disimpulkan dari perilaku.
Dahar menyatakan bahwa konsep merupakan dasar untuk berpikir, untuk belajar aturan-aturan dan akhirnya untuk memecahkan masalah. Dengan demikian konsep itu sangat penting bagi manusia dalam berpikir dan belajar.

Pemetaan konsep merupakan suatu alternatif selain outlining, dan dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining dalam mempelajari hal-hal yang lebih kompleks. Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi merupakan dua atau lebih konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik (Novak dalam Dahar 1988: 150).

George Posner dan Alan Rudnitsky dalam Nur (2001b: 36) menyatakan bahwa peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antar tempat. Peta konsep bukan hanya meggambarkan konsep-konsep yang penting melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Dalam menghubungkan konsep-konsep itu dapat digunakan dua prinsip, yaitu diferensiasi progresif dan penyesuaian integratif. Menurut Ausubel dalam Sutowijoyo (2002: 26) diferensiasi progresif adalah suatu prinsip penyajian materi dari materi yang sulit dipahami. Sedang penyesuaian integratif adalah suatu prinsip pengintegrasian informasi baru dengan informasi lama yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu belajar bermakna lebih mudah berlangsung, jika konsep-konsep baru dikaitkan dengan konsep yang inklusif.

Untuk membuat suatu peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis. Kadang-kadang peta konsep merupakan diagram hirarki, kadang peta konsep itu memfokus pada hubungan sebab akibat. Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas, maka Dahar (1988: 153) mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:
1) Peta konsep (pemetaan konsep) adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika dan lain-lain. Dengan membuat sendiri peta konsep siswa “melihat” bidang studi itu lebih jelas, dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna.
2)Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang memperlihatkan hubungan-hubungan proposisional antara konsep-konsep. Hal inilah yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara mencatat pelajaran tanpa memperlihatkan hubungan antara konsep-konsep.
3)Ciri yang ketiga adalah mengenai cara menyatakan hubungan antara konsep-konsep. Tidak semua konsep memiliki bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep lain.
4) Ciri keempat adalah hirarki. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut.
Peta konsep dapat menunjukkan secara visual berbagai jalan yang dapat ditempuh dalam menghubungkan pengertian konsep di dalam permasalahanya. Peta konsep yang dibuat murid dapat membantu guru untuk mengetahui miskonsepsi yang dimiliki siswa dan untuk memperkuat pemahaman konseptual guru sendiri dan disiplin ilmunya. Selain itu peta konsep merupakan suatu cara yang baik bagi siswa untuk memahami dan mengingat sejumlah informasi baru (Arends, 1997: 251).

b. Cara Menyusun Peta Konsep

Menurut Dahar (1988:154) peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna. Oleh karena itu siswa hendaknya pandai menyusun peta konsep untuk meyakinkan bahwa siswa telah belajar bermakna. Langkah-langkah berikut ini dapat diikuti untuk menciptakan suatu peta konsep.
Langkah 1: mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep.
Langkah 2: mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama
Langkah 3: menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut
Langkah 4: mengelompokkan ide-ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara visual menunjukan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan langkah-langkah menyusun peta konsep sebagai berikut:
1)Memilih suatu bahan bacaan
2)Menentukan konsep-konsep yang relevan
3)Mengelompokkan (mengurutkan ) konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif
4)Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep-konsep yang paling inklusif diletakkan di bagian atas atau di pusat bagan tersebut.
Dalam menghubungkan konsep-konsep tersebut dihubungkan dengan kata hubung. Misalnya “merupakan”, “dengan”, “diperoleh”, dan lain-lain.

c. Peta Konsep sebagai Alat Ukur Alternatif

Tes seperti pilihan ganda yang selama ini dipandang sebagai alat ukur (uji) keberhasilan siswa dalam menempuh jenjang pendidikan tertentu, bukanlah satu-satunya alat ukur untuk menentukan keberhasilan siswa. Tingkat keberhasilan siswa dalam menyerap pengetahuan sangat beragam, maka diperlukan alat ukur yang beragam. Peta konsep adalah salah satu bentuk penilaian kinerja yang dapat mengukur siswa dari sisi yang berbeda. Penilaian kinerja adalah bentuk penilaian yang digunakan untuk menilai kemampuan dan keterampilan siswa berdasarkan pada pengamatan tingkah lakunya selama melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa selama kegiatan. Menurut Tukman dalam Sutowijoyo (2002: 31) penilaian kinerja adalah penilaian yang meliputi hasil dan proses, yang biasanya menggunakan material atau suatu peralatan (equipment). Penilaian kinerja dapat digunakan terutama untuk mengukur tujuan pembelajaran yang tidak dapat diukur dengan baik bila menggunakan tes obyektif. Penilaian kinerja mengharuskan siswa secara aktif mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui. Yang paling penting, penilaian kinerja dapat memberi motivasi untuk meningkatkan pengajaran, pemahaman terhadap apa yang mereka perlu ketahui dan yang dapat mereka kerjakan. Berdasarkan teori belajar kognitif Ausubel, Novak dan Gowin (1984) dalam Dahar (1988: 143) menawarkan skema penilaian yang terdiri atas: Struktur hirarki, perbedaan progresif, dan rekonsiliasi integratif.

Struktur hirarkis, yaitu struktur kognitif yang diatur secara hirarki dengan konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang lebih inklusif, lebih umum, superordinat terhadap konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang kurang inklusif dan lebih khusus. Perbedaan progresif menyatakan bahwa belajar bermakna merupakan proses yang kontinyu, dimana konsep-konsep baru memperoleh lebih banyak arti dengan bentuk lebih banyak kaitan-kaitan proporsional. Jadi konsep-konsep tidak pernah tuntas dipelajari, tetapi selalu dipelajari, dimodifikasi, dan dibuat lebih inklusif. Rekonsiliasi integratif menyatakan bahwa belajar bermakna akan meningkat bila siswa menyadari akan perlunya kaitan-kaitan baru antara kumpulan-kumpulan konsep atau proposisi. Dalam peta konsep, rekonsiliasi integratif ini diperlihatkan dengan kaitan-kaitan silang antara kumpulan-kumpulan konsep (Dahar,1988: 162)

Selanjutnya Novak dan Gowin memberikan suatu aturan untuk mengikuti penilaian numerik jika skoring dipandang perlu. Pertama, skoring didasarkan atas preposisi yang valid. Kedua, untuk menghitung level hirarkis yang valid dan untuk menskor tiap level sebanyak hubungan yang dibuat. Ketiga, crosslink yang menunjukan hubungan valid antara dua kumpulan (segmen) yang berbeda adalah lebih penting daripada level hirarkis, karena mungkin saja ini pertanda adanya penyesuaian yang integratif. Keempat, diharapkan siswa dapat memberikan contoh yang spesifik dalam beberapa kasus untuk meyakinkan bahwa siswa mengetahui peristiwa atau obyek yang ditunjukan oleh label konsep.

Jenis-jenis Peta Konsep

Menurut Nur (2000) dalam Erman (2003: 24) peta konsep ada empat macam yaitu: pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map).
1) Pohon Jaringan.
Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain dihubungkan oleh garis penghubung. Kata-kata pada garis penghubung memberikan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengkonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik itu dan daftar konsep-konsep utama yang berkaitan dengan topik itu. Daftar dan mulailah dengan menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan
hubungannya pada garis-garis itu (Nur dalam Erman 2003: 25)

Pohon jaringan cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:
- Menunjukan informasi sebab-akibat
- Suatu hirarki
- Prosedur yang bercabang

Istilah-istilah yang berkaitan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan-hubungan.
1) Rantai Kejadian.
Nur dalam Erman (2003:26) mengemukakan bahwa peta konsep rantai kejadian
dapat digunakan untuk memerikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses. Misalnya dalam melakukan eksperimen.

Rantai kejadian cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:
- Memerikan tahap-tahap suatu proses
- Langkah-langkah dalam suatu prosedur
- Suatu urutan kejadian

2) Peta Konsep Siklus
Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil akhir. Kejadian akhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Seterusnya kejadian akhir itu menhubungkan kembali ke kejadian awal siklus itu berulang dengan sendirinya dan tidak ada akhirnya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk menunjukan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk menghasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang. Gambar 2.5 memperlihatkan siklus tentang hubungan antara siang dan malam.

3) Peta Konsep Laba-laba
Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Dalam melakukan curah pendapat ide-ide berasal dari suatu ide sentral, sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Banyak dari ide-ide tersebut berkaitan dengan ide sentral namun belum tentu jelas hubungannya satu sama lain. Kita dapat memulainya dengan memisah-misahkan dan mengelompokkan istilah-istilah menurut kaitan tertentu sehingga istilah itu menjadi lebih berguna dengan menuliskannya di luar konsep utama. Peta konsep laba-laba cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:
a) Tidak menurut hirarki, kecuali berada dalam suatu kategori
b) Kategori yang tidak paralel
c) Hasil curah pendapat

Proses mengajarkan strategi belajar digunakan dua pendekatan pengajaran utama, yaitu pengajaran langsung dan pengajaran terbalik (Nur 2000b: 45). Pengajaran langsung merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Dalam melatihkan strategi belajar secara efektif memerlukan pengetahuan deklaratif, prosedural, dan kondisional tentang strategi-strategi belajar. Pengetahuan deklaratif tentang strategi-strategi tertentu termasuk bagaimana strategi itu didefinisikan, mengapa strategi itu berhasil, dan bagaimana strategi itu serupa atau berbeda dengan strategi-strategi lain. Siswa juga memerlukan pengetahuan prosedural, sehingga mereka dapat menggunakan berbagai macam strategi secara efektif. Di samping itu juga menggunakan pengetahuan kondisional untuk mengetahui kapan dan mengapa menggunakan strategi tertentu.

Salah satu alasan menggunakan pengajaran langsung dalam mengajarkan strategi belajar adalah karena pengajaran langsung diciptakan secara khusus untuk mempermudah siswa dalam mempelajari pengetahuan deklaratif dan prosedural yang telah direncanakan dengan baik serta dapat mempelajarinya selangkah demi selangkah (Arends 1997) dalam Nur (2000b: 46).
Pada Tabel 2.2 sintaks pengajaran langsung yang diadaptasikan untuk mengajarkan strategi belajar, dan dilengkapi dengan teori yang mendukung sebagai landasan pelaksanaan pengajaran strategi belajar.

Tahap-tahap Pengajaran Langsung dalam Melatihkan Strategi Belajar

Tahap 1
1. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
2. Memotivasi siswa.

Tahap 2
1. Secara klasikal menjelaskan strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep.
2. Memodelkan strategi Mengarisbawahi dan membuat peta konsep.

Tahap 3
Melatihkan siswa menggunakan strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep dibawah bimbingan guru.

Tahap 4
1. Memeriksa pemahaman siswa terhadap strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep
2. Memberi umpan balik hasil pemahaman siswa terhadap strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep.

Tahap 5
Melatih sisawa untuk menerapkan strategi belajar menggarisbawahi dan membuat peta konsep secara mandiri.

Tahap 6
1. Mengevaluasi tugas latihan menggarisbawahi dan membuat peta konsep.
2. Membimbing siswa untuk merangkum pelajaran

ditulis Oleh : Anwar Holil

Pelajaran Dari PIMNAS XXI

Juli 24th, 2008 by abdoel14

PIMNAS XXI di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), Semarang, boleh saja telah berakhir pada 19 Juli 2008 yang lalu, di mana Universitas Brawijaya secara agregat berhasil menjadi juara umumnya dan berhak memboyong piala bergilir Menteri Pendidikan Nasional “adhikarta Kertawidya” dari juara bertahan Universitas Gadjah Mada.
Akan tetapi suasana akademis, luapan emosi kompetisi untuk menampilkan hasil kreatifitas dan penalaran terbaik di ruang-ruang presentasi, aura pembauran seluruh wakil terbaik kampus Indonesia di setiap sudut rendezvous, suka cita menanti dan mendengarkan para pemuncak di malam penutupan pasti masih terngiang dan terpatri dalam ingatan para peserta. Kepalan tangan kepuasan dan tengadah dua tangan sebagai rasa syukur bagi sang juara, maupun getaran emosi dan linangan air mata bagi peserta yang belum menjadi juara,  serta tekad bagaimana bisa tampil lagi di ajang PIMNAS tahun depan dan melakukan yang terbaik, pasti masih terbawa dalam batin masing-masing peserta. Itulah kesan. Itulah kenangan.

Belajar dari PIMNAS XXI ini seharusnya kenangan itu tidak hanya menjadi kenangan batin para mahasiswanya saja. Ini adalah lembaran pelajaran bagi kita semua. Mulai dari dosen, prodi, fakultas, universitas dan sampai ke pemerintahan. Need of achievement dan kemampuan melahirkan kreasi dan inovasi yang relevan bagi bangsa kita ini bisa dilahirkan dari perguruan tinggi kita terutama dari mahasiswa. Asal seluruh stakeholder di atas menjadikan pembangunan dan pengembangan mahasiswa sebagai hal terpenting mereka. Ada upaya menfasilitasi dan menjaga mimpi-mimpi mereka semenjak awal mereka masuk kampus dan membimbing mereka dari potensial/mimpi itu semakin dekat dengan hal yang aktual dan relevan. Diajak mereka dalam semesta lives in education di mana study hanyalah porsi kecilnya saja lagi. Ini semua hanya akan terjadi jika kita push them to the limit.  

Sebetulnya hal ini saja menjadi fokus kita, angka kontribusi creative industry  terhadap produktifitas Negara tidak lagi bertengger secara stagnan di angka 7 persen; Knowledge economic indicators (KEI) kita tidak lagi rendah. Tidak ada lagi terjadi ironi-ironi pendidikan di Indonesia, seperti korelasi negatif years of schooling dan GDP per capita dan korelasi negatif years of schooling dan kemandirian anak-anak bangsa. Serta tidak lagi ada pengangguran terdidik. Perlakuan dan cara pendekatan yang tepat akan mengaktivasi seluruh potensi menjadi aktual dalam rupa kreasi-kreasi yang bermanfaat bagi bangsa dan Negara.

Ajang  PIMNAS ini bisa menjadi ajang leverage  dan benchmark bagi perguruan tinggi di Indonesia. Gengsi universitas dipertaruhkan di sini. Atmosfir itu terasa sekali di ajang PIMNAS ini. Sampai saat ini 10 besar peserta lolos pimnas masih didominasi oleh universitas terbaik di Jawa, walaupun mahasiswanya itu adalah berasal dari daerah-daerah yang ada di Indonesia. sepuluh besar itu urutannya adalah IPB, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Brawijaya, Unversitas Gadjah Mada, Universitas Malang, Universitas Airlangga, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas Islam Sultan Agung, dan Instititut Teknologi Sepuluh November. Selebihnya dari kurang lebih seratus perguruan tinggi partisipan hanya mengirimkan satu digit angka partisipan saja. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi perguruan tinggi yang belum pernah ikut PIMNAS/gagal ikut dalam PIMNAS XXI ini, berarti program kemahasiswaannya belum sampai taraf push them to the limit.

Di atas angka-angka itu, bagi kita yang sempat hadir di setiap ruang presentasi mahasiswa ini (PKM, PKMI, LKTM dst) pasti akan menangkap suatu suasana akademik yang luar biasa menginspirasi. Setiap mahasiswa peserta dengan bangga menampilkan karya terbaiknya dihadapan Juri dan peserta lain. Mereka tampilkan secara presisi, prosedural dan atraktif karya mereka. Seluruh nalar ilmiah mereka ikuti satu persatu. Aspek ontologi, metodologi dan estetika mereka urai habis dalam presentasi itu. ini adalah lomba meyakinkan untuk menjadi yang terbaik.

Karena setiap proses karya ilmiah adalah terbuka dan penuh etika kejujuran ilmiah, maka peserta mempertanggungjawabkannya di hadapan juri-juri yang ahli dibidangnya. Akan tetapi ini bukanlah ujian akhir kuliah. Suasananya partisipatif dan atraktif melambungkan kuriositas. Secara bergantian masing-masing peserta saling melengkapi menjawab dan menjelaskan setiap Tanya. Ruangan selalu penuh dalam suasana khidmat mendengarkan presentasi dan akan ramai saat-saat mahasiswa diberikan juga kesempatan untuk bertanya, menvalidasi, menferivakasi dan memperkaya hasil presentasi kawan-kawan mereka. Terjadi proses saling belajar dan menghargai antara mahasiswa.

Dalam PIMNAS ini mahasiswa belajar juga bagaimana melakukan team up, kerjasama. Karena setiap kegiatan utama, maupun penunjang, tidak kurang dari 3-5 orang mahasiswa yang terlibat aktif di dalamnya ditambah dosen pembimbing. Ini adalah modal penting bagi  mahasiswa mengarungi masa depan yang membutuhkan kemampuan membangun team work, tidak cukup lagi hanya sekedar individual task dan specialist duties. Ini adalah kompetensi penting memasuki era post industry. Ini adalah contoh soft skill yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan hard skill.

Dirjen Dikti, dr. Fasli Jalal, melihat program pengembangan mahasiswa semisal PIMNAS ini sebagai hal yang menjadi program strategis di lingkungan Direktorat jenderal Pendidikan Tinggi. Membangun suasana akademik, active learning, kewirausahaan, pengalaman magang, student excange dll variasi kegiatan mahasiswa di dalam semesta study in lives menurut dirjen tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan membangun infrastruktur fisik kampus. Dirjen meminta kepada para dosen dan pimpinan perguruan tinggi agar memberikan ruang-ruang kreatifitas bagi para mahasiswanya. Kata dirjen kalau ada kreasi yang out of the box sekalipun dari mahasiswa jangan cepat-cepat dihukum. Lihat dulu secara hati-hati.

Dari beberapa kegiatan apakah Presentasi Program Kreatifitas mahasiswa (PKM)  dan lima cabangnya: PKM Penelitian (PKMP); PKM Penerapan Teknologi (PKMT); PKM Kewirausahaan (PKMK); PKM Pengabdian Masyarakat (PKMM); dan PKM Penulisan Ilmiah. Atau  Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) di tiga bidang, yaitu IPA, IPS dan Pendidikan. Atau, Lomba Poster dan Gelar Produk PKM. atau Gelar Poster dan Gelar Produk nonPKM; atau sarasehan Bidang Kemahasiswaan. Kesemuanya adalah karya-karya yang layak diapresiasi dan relevan. Ini semua patut rasanya dihubungkan dengan industri dan diupayakan patennya.   

Mari kita lihat beberapa hasil para penyaji terbaik satu dari lima cabang PKM, dimana masing-masing cabang dipecah lagi menjadi tiga pecahan. Setiap pecahan cabang tidak kurang diikuti oleh 22 perguruan tinggi peserta bertarung menampilkan yang terbaik. Di bidang PKMP I, tim dari UNAIR dengan tiga orang anggota tim mengangkat tema “Produksi Alkohol Melalui Biokonversi Pati dengan Ragi Rekombinan yang Memiliki Aktivitas Glukoamilase” . Di PKMT 1, Universitas Brawijaya bersama lima orang tim berhasil menjadi yang terbaik dengan mengangkat suatu tema “Muhajji Finder Alat Pemandu Jamaah Haji yang Tersesat Via GPS (Global Positioning System). Di PMK 1, Universitas Gadjah Mada dengan tim yang beranggotakan lima mahasiswa itu mengajukan usulan “pemanfaatan Ekstrak Humat dari Industri Peternakan Sapi sebagai Perekat Aneka Kerajinan Gerabah”. Di bidang PKMM III, Universitas Negeri Malang dengan tiga orang tim mahasiswanya menyajikan suatu model paket pengabdian masyarakat “pemanfaatan Millet Sebagai Bahan Pangan Alternatif Dalam Upaya Menanggulangi Kelaparan Masyarakat Situbondo Jawa Timur” dst.

Masih ada ratusan contoh karya lagi yang layak kita lihat bersama. Apa yang mereka lakukan sudah melewati tahap-tahap saringan yang berlapis. Quality control, orisinalitas, kejujuran ilmiah, relevansi, proses verifikasi, validasi dsb adalah hal yang dilihat dalam seluruh rangkaian saringan itu.

Puncak atmosfir itu terjadi pada malam penutupan. Masing-masing penyaji terbaik disebutkan. Aula di lantai tiga fakultas kedokteran UNISSULA penuh sesak oleh seluruh tim peserta. Luapan rasa syukur itu dikeluarkan di detik-detik pembacaan sang pemuncak. Ketika nama-nama, nama karya, dan nama universitas disebutkan sebagai yang terbaik, sorak sorai dan yel-yel dari tim pemenang bertalu-talu menggema di seluruh ruangan. Kesudahannya setelah para juara dipanggil dan juara umum ditetapkan, terdengar teriakan terakhir simpatik dari mahasiwa “terimah kasih UNISSULA”. Terimah kasih UNISSULA.

Gemuruh suasana ditutup oleh pidato dirjen dengan beberapa kalimat saja. Kata dirjen “ini adalah peristiwa maha dahsyat’. Semuanya adalah pemenang dan selamat kepada semua. Dirjen mengkomodasi luapan emosi positif ini dengan yel-yel perpisahan yang diikuti oleh gemuruh sambutan ribuan mahasiswa yaitu “aku bangga menjadi mahasiswa Indonesia’. Ternyata mahasiswa kita tidak hanya jago berdemonstrasi di jalanan. Mereka juga luar biasa mendemonstrasikan kreatifitas-kreatifitas yang pada gilirannya nanti berguna dan memberikan nilai tambah bagi produktifitas bangsa dan negera kita, Indonesia. semoga.

Semarang
By Irwandi

Halo dunia!

Juli 23rd, 2008 by abdoel14

Selamat Datang di Blog Saya….

Saya akan coba memuat beberapa tulisan yang berkenaan dengan dunia IT, yang saya tulis sendiri mauun yang saya ambil dari beberapa link yang kiranya perlu untuk lebih di publikasikan lebih luas.

Salam